Minggu, 14 Agustus 2016

MEMAKNAI SEBUAH DOA

MEMAKNAI SEBUAH UJIAN
( Andi Abi Abdullah )


Sahabat sahabatku yang rajin berdoa,

Salah satu doa yang sering kita panjatkan adalah sebuah doa yang diajarkan oleh Rosulullah Saw yang berbunyi

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik ,
Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Dalam doa tersebut kita meminta diteguhkan hati atas Islam, yang berarti dikuatkan iman agar kuat dalam menghadapi cobaan. Lalu apakah Allah akan memberi dengan Cuma Cuma permohonan ini?
Ada sebagian yang diberi Cuma Cuma, namun tidak sedikit oleh Allah diberi ujian dan cobaan untuk membuat kita layak dan siap menerima kekuatan iman.
Apakah kita bisa memilih ujian tersebut?

TIDAK!!!
Bahkan Allah sering kali memberi ujian secara mendadak, tanpa peringatan, tak mengenal waktu. Ujian itu bisa berupa kesulitan ekonomi yang cukup lama,
Bisnis yang terganggu, keluarga yang retak, nama baik yang tercoreng, anak sakit, dan berbagai kesulitan yang lainnya.
Saat itulah sebenarnya Allah sedang memproses doa yang kita panjatkan, doa agar diteguhkan dalam islam, doa agar dikuatkan dalam iman, melalui berbagai ujian tadi, apakah kemudian kita berhasil melewatinya dengan baik, ataukah kita gagal mendapatkan anugerah dan kemuliaan dari Allah.,
Sahabatku yang rajin berdoa,
Bila saat ini kesulitan hidup sedang engkau hadapi apapun itu, maka tersenyumlah, dan yakini ini adalah bagian dari rencana Allah , rencana terbaik untuk mengabulkan doa doa yang kita panjatkan, apabila kita mampu melewati kesulitan ini dengan baik.

Semoga gelapnya malam berganti pagi, matahari segera terbit, dan kebahagiaan dalam keberkahannya segera kita nikmati, amin.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

Surah Al-Baqarah ayat 216.


Selasa, 26 Juli 2016

*CARILAH TEMAN  SURGA*
( Andi Abi Abdullah )

Sahabatku calon ahli surga,
Setiap kita saat ini memiliki teman, saudara, sahabat, bahkan keluarga yang sering kali tertawa bersama, asyik saat makan bersama, rame ketika berbagi cerita.
Namun apakah kehadiran mereka saat ini turut membantu kita meniti jalan menuju surga ataukah sebaliknya?
Kita semua sadar bahwa hidup ini sangat sebentar, dan kematian pasti datang
Kita faham bahwa tempat kita sesungguhnya bukanlah dunia ini, namun akherat yang abadi ( neraka atau surga ? )
Bahkan kita sangat mengerti untuk meraih surga tersebut kita harus sangat hati hati meniti jalan hidup yang panjang dan penuh onak duri ini.
Maka bersyukurlah kita yang memiliki teman yang bersedia meniti jalan bersama sambil saling mengingatkan untuk hati hati, mengingatkan ketika ada duri, menyemangati ketika kita lelah, menentramkan ketika kita gelisah, meluruskan ketika kita salah......inilah teman yang akan menemani kita ke surga wahai sahabatku.
Janganlah terlalu asyik dengan pertemanan yang semu, yang hanya mencari gelak tawa
Jangan terlena dengan pertemanan yang kering tanpa nasehat, karena bisa mengeraskan hati kita
Jangan tenggelam dalam pergaulan yang hanya mengejar dunia, karena disana akan membuat kita rakus dan serakah.
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman (HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)”
Disadari atau tidak, kualitas teman akan sangat berpengaruh dalam prilaku kita, teman akan banyak mewarnai pemikiran, sikap, kebiasaan dan prilaku kita sehari hari, apalagi kalau iman kita sedang lemah dan kita jauh dari orang orang sholeh, mudah bagi kita untuk terus jauh dan menjauh dari jalan Allah, cepat atau lambat, namun kita serasa nyaman karena ada “teman” yang berprilaku sama.
Maka perbanyaklah teman yang baik wahai sahabatku, yang mampu menasehati, yang bisa mengingatkan, yang bisa mengajarkan kebaikan, hingga kebersamaannya menjadikan jalan penguatan iman.
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. ( At Taubah: 119)
Allah telah ingatkan  dalam ayat tersebut, agar kita memiliki kebersamaan dengan orang yang benar, orang yang sholeh agar kita terjaga.
Teman juga bisa menjadi jalan kita introspeksi diri, lihatlah siapa teman yang paling sering kita temui, siapakah teman yang selama ini nyaman dengan kita, kualitas teman tersebut adalah gambaran kualitas diri kita. Semoga dengan kesadaran untuk mencari teman yang baik membuat kita terpacu untuk menjadi lebih baik, agar dicari orang lain untuk menjadi temannya.
Siapakah teman kita saat ini?


Senin, 20 Juni 2016

HILANGNYA AMAL KARENA SOMBONG

HILANGNYA AMAL KARENA SOMBONG
( Andi Abdi Abdullah )

Sahabatku yang lembut hati,
Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah sombong, merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, merasa lebih kaya, merasa lebih berilmu dan merasa lebih beriman dari orang lain.
Ketika perasaan ‘merasa’’ ini sudah hinggap didalam hati kita maka cenderung akan sulit menerima nasehat, apalagi  yang datang dari orang yang di anggap lebih rendah dari diri kita. Mudah sekali kita menolak kebenaran yang disampaikan hanya karena kita tahu kekurangan penyampai, gampang sekali kita menolak nasehat hanya karena kita merasa lebih baik dari penyampai, padahal belum tentu keadaan yg sebenarnya seperti yang kita fikirkan.

Sifat sombong seperti ini sangat berbahaya wahai sahabatku, Karena sombong akan menghabiskan upaya kita mengumpulkan pahala, Menyebabkan kebencian dari Allah, dan neraka tempatnya untuk kembali
Segala amal kebaikan bisa terhapus habis karena sifat sombong ini.

Rasulullah juga bersabda:
“bahwa siapa yang memuji dirinya sendiri atas suatu amal shalih berarti sudah tersesat dari mensyukurinya dan gugurlah segala amal perbuatannya.
“Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri.
“”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Apakah kita selama ini sering melakukan hal seperti itu?
Senang memuji diri sendiri, memancing orang lain agar memujinya, menyebarkan kebaikan di media silosial dan menikmati pujian yang datang setelahnya,
Menolak ketika mendapatkan nasehat karena merasa lebih tahu
Meremehkan kebaikan yang disampaikan karena merasa lebih mulia,
Bila kita masih sering melakukan hal tersebut maka segeralah bertaubat wahai sahabatku, dan segera perbaiki diri, jangan sia siakan amal ibadah kita dengan menghapus pahalanya dengan sifat sombong.
Janganlah kita salah menuju tempat kembali dengan memilih jalan menuju neraka karena kesombongan yang kita pelihara, dan kita nikmati kesombongan yang melenakan itu.

“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (QS. Mukmin: 76)

Sahabatku yang rendah hati,
Biasakanlah saling menasehati, untuk melembutkan hati kita, menjadikan diri mudah menerima kebenaran dari siapapun, sering seringnya menghitung kekurangan diri, dan menghitung kebaikan orang lain agar hati kita menjadi lembut, dan terhindar dari sifat sombong.
Semoga ramadhan kali ini mampu mengajarkan kita menjadi pribadi yang rendah hati, lembut, dan terhindar dari bahaya sifat sombong, semoga amal ibadah yang kita lakukan selama ini terutama di bulan istimewa ini akan tetap bertahan dan tidak hilang karena sifat sombong sehingga mampu menyelamatkan kita dihari perhitungan nanti, amin.



Selasa, 14 Juni 2016

HIDUP ADALAH UJIAN

HIDUP ADALAH UJIAN
( Andi Abi Abdullah )

Hidup adalah ujian sahabat,
Apapun kondisimu, itu adalah bentuk ujian dari Allah untuk melihat seberapa besar iman bersemayam didalam hati
Harta yang melimpah apakah membuatmu rajin bersyukur? Makin taat kepada Allah?
Di himpit kesulitan apakah membuatmu bersabar dan memohon hanya kepada Allah?
Bergaul dengan orang sholeh, apakah engkau mengambil pelajaran darinya?
Bergaul dengan pelaku maksiyat apakah membuatmu selalu berhati hati terjerumus? Atau kita merasa suci dan alim?
Orang lain bersikap hormat dan santun kepada kita, apakah membuat kita merasa besar?
Orang lain kasar dan tak beretika, apakah kita membalas dengan sikap yang sama?
Dan masih banyak lagi, kejadian yang ada di sekitar kita dan sesungguhnya adalah ujian dari Allah apakah kita mampu mengambil pelajaran darinya atau tidak.

Hidup adalah ujian sahabat,
Kami mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa: 35)
Baik buruk, sehat sakit, halal haram, semua adalah bagian dari cara Allah untuk melihat seberapa istiqomah kita dengan syahadat yang di ucapkan, seberapa yakin  kepada-Nya. Karena dari proses itu kemudian kita akan mendapatkan balasan sesuai dengan kualitas yang dimiliki.
Apa yang kita miliki saat ini, baik ilmu, harta, sehat, keluarga, lingkungan adalah ujian Allah, dengan itu semua apakah yang kita perbuat?
Apa yang tidak kita miliki adalah ujian dari Allah, apakah  bisa bersabar, tidak mengambil apa yang dimiliki orang lain dengan cara batil, tidak menghujat, tidak mengupayakan dengan cara salah, atau malah memotivasi kita dengan cara yang benar untuk meraihnya.

Hidup adalah ujian sahabat,
Kapan ujian ini akan berakhir? Ketika kualitas kita sudah diketahui, dan tulisan takdir sudah terpenuhi,  hingga surga dan neraka yang Allah siapkan terasa adil oleh kita, karena memang kesitulah tempat yang sesuai unytuk kualitas kita.


Minggu, 12 Juni 2016

TUNTUTLAH DIRI SENDIRI

 TUNTUTLAH DIRI SENDIRI
( Andi Abi Abdullah )

Sahabatku yang selalu memperbaiki diri,
Dalam pergaulan sering kali kita dapati sikap yang tidak nyaman dari orang lain,
Pedagang yang judes, pembeli yang sombong, tetangga yang masam, teman yang pedas,
Dan banyak hal yang tidak menyenangkan.
Pertanyaannya adalah kenapa orang orang disekeliling kita sepertinya tidak ramah dan tidak santun terhadap kita?
Mari kita temukan jawabannya dalam alquran surat Al Anfal 53,
.......Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri ............ (QS. 8:53)
Tanpa sadar sering kali kita berharap orang lain merubah sikapnya kepada kita, seringkali kita meminta orang lain memahami kita, kita berharap orang lain instrospeksi, melakukan perbaikan, bahkan meminta maaf kepada kita, namun diri kita sendiri tidak melakukan perubahan sikap, tidak instrospeksi dan enggan meminta maaf.
Bukankah Allah telah jelas dalam ayat tersebut bahwa ada syarat bahwa kita harus merubah (melakukan perbaikan) atas diri kita sendiri baru Allah akan merubah ( menambah) nikmat yang Allah berikan. Maka cara menyelesaikan segala persoalan pergaulan hidup diatas, tetangga, pedagang, penjual, teman, bahkan pasangan hidup adalah dengan melakukan perbaikan diri, perbaiki akhlak, kedepankan prasangka yang baik, dan sabar dengan segala sikap yang kita terima maka insyaAllah berjalannya waktu orang orang yang ada di sekeliling kita akan menjadi orang yang menyenangkan dan dirindukan.
Sahabatku yang bijaksana,
Sesungguhnya apa yang kita lakukan pasti akan kembali pada diri kita, baik maupun buruk, apabila setiap orang menuntut dirinya sendiri untuk selalu berprilaku baik maka betapa indahnya hidup ini, karena setiap orang berupaya untuk menyenangkan orang lain dengan sikap indahnya tersebut,

semoga dengan yang sedikit ini mampu menyadarkan kita untuk selalu berupaya bersikap baik dalam suasana apapun, dan semoga kita menjadi bagian dari para penyebar kebaikan , amin.

Selasa, 07 Juni 2016

MENJADI ORANG TUA YANG BAIK

MENJADI ORANG TUA YANG BAIK
( Andi Abi Abdullah )

Sahabatku yang sedang menikmati bulan pengampunan,
Semoga dibulan ini kita semua mendapatkan pengampunan dari Allah atas segala khilaf dan dosa, atas segala salah dan keliru, karena sesungguhnya setiap kita tak bisa lepas dari semua itu, setiap kita memiliki dosa, maka ampunan terbaik dari Allah adalah nikmat terbesar yang kita dapatkan.

Sahabatku yang sedang menikmati bulan Pembelajaran,
Akan lebih indah romadhan kali ini apabila kita mau belajar dengan baik bagaimana mendidik anak, mendidik dengan Alquran, menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup, kompas dalam menjalani hidup yang cukup panjang ini.
Ingatlah akan ayat Allah :

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman : 17)

Dalam ayat ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran :
1.        Anak harus dididik untuk mendirikan sholat, bukan sekedar mengerjakan, apalagi sekedar disuruh, jangan merasa telah lepas tanggung jawab ketika telah menyuruh anak sholat tetapi tidak memastikan apakah sudah dikerjakan atau tidak, dikerjakan dengan baik atau tidak, telah menjadi sebuah kebiasaan atau telah menjadi sebuah kebutuhan, itu semua harus dalam bimbingan kita.
2.        Anak tidak hanya di didik untuk berbuat baik, tetapi mampu mengajak berbuat baik dengan cara yang benar, menjadi teladan bagi lingkungannya dalam kebaikan.
3.        Anak dimotivasi untuk memiliki keberanian dalam mencegah kemungkaran, diberi dan dilatih bekal yang cukup, kemudian bijak dalam bertindak.
4.        Bersabar dalam setiap kejadian, karena dalam sabar ada kemudahan, dalam sabar ada keberkahan, dalam sabar ada jalan keluar yang tidak di duga duga.

Minimal ada 4 hal yang bisa kita ambil pelajaran dalam ayat tersebut untuk mendidik anak, dan masih banyak ayat yang lain yang bisa kita pelamjari.
Sahabatku yang sedang menikmati bulan penuh hikmah,
Sebeluma mendidik anak sebaiknya kita juga banyak belajar, banyak mengambil hikmah dari perjalanan hidup  untuk diajarkan kepada anak anak.
Orang tua yang baik akan mampu menerangkan apa yang tidak faham menjadi faham.
Orang tua yang lebih baik akan memberi contoh,
Orang tua terbaik akan memberi inspirasi,

Pertanyaannya adalah orang tua seperti apa kita ini? Yang baik, lebih baik, atau terbaik?
Atau bahkan diluar dari pada itu.....karena yang kita punya hanya “kata seru” yang terwujud dalam kalimat perintah yang tidak jelas.

Marilah dibulan baik ini kita perbaiki kualitas diri, perbanyak bekal mendidik anak, sehingga kita mampu menjadikan anak  sebagai calon ahli surga, dan kita akan menemaninya tidak hanya didunia ini namun juga di surga nanti, insyaAllah. Amin.


Minggu, 05 Juni 2016

SELAMAT UNTUKMU
( Andi Abi Abdullah )


Selamat saya sampaikan kepada antum semua,
Adalah sebuah kenikmatan besar pada hari ini 1 Ramadhan kita diberi nikmat oleh Allah dengan nyawa dan nafas yang masih ada di tubuh ini, berapa banyak orang yang berharap dan menunggu bulan mulia ini namun oleh Allah tidak perkenankan sehingga mendahului menghadap-Nya.?

Selamat saya haturkan kepada antum semua,
 yang hari ini menjalankan ibadah puasa, karena itu adalah nikmat Allah yang begitu besar, berapa banyak orang yang hari ini karena berbagai halangan belum bisa menjalankan ibadah puasa, maka bersyukurlah yang berpuasa karena Allah menyayangimu.

Selamat saya ucapkan kepada antum semua,
Yang menikmati bulan istimewa ini dengan memperoleh pahala dikali 10, bahkan dikali berapapun sekehendak Allah, bentuk kemurahannya yang tanpa batas, maka maksimalkan segala potensi, kemampuan, kreativitas, ilmu dan harta yang kita miliki, karena Allah membuka pintu ‘kelipatan’ dibulan mulia ini hanya untuk kita, benar !!! untuk kita.
” Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hingga ke 700 kali .  ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan kepadanya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya karena Aku’.” (Hadist riwayat Muslim)

Maka bergembiralah sahabatku,
Selamat selamat dan selamat,!!! semoga sejak di hari pertama ini kita bisa memanfaatkan dengan baik segala peluang yang disediakan, berbuat yang terbaik dan dan diberikan gelar terbaik untuk kita yaitu gelar “bertaqwa” , berhati hatilah bersikap, berprilaku, jaga lidah, jaga hati, agar tidak merusak pahala puasa kita.
Semoga kita semua kelak diberi kesempatan Allah untuk masuk surga melalui pintu Ar Rayyan, amin