Senin, 28 November 2016

MENDIDIK DENGAN CARA YANG TEPAT

MENDIDIK DENGAN CARA YANG TEPAT

Sahabatku semua yang ahli dalam mendidik,
Kita telah fahami bahwa cara menanamkan dengan kuat sebuah pesan kedalam hati seseorang adalah dengan menyentuh di sisi yang tepat, membawa dalam suasana yang mendukung, mengisi relung hati, dan memberikan contoh langsung atau keterlibatan secara langsung atas apa yang kita ajarkan.
Terkadang melihat kondisi tertentu jauh lebih efektif dalam menanamkan nilai dibandingkan dengan penjelasan teoritis yang panjang.
Saya teringat kisah seorang teman,
Dulu ketika HP masih merupakan barang mewah, istrinya minta dibelikan dengan pertimbangan keluarga dikampung semua, akan mudah dihubungi dan menghubungi. Sang teman ini tidak menjawab langsung tapi mengajaknya shilaturohim ke teman halaqoh yang ngontrak di kontrakan petak, anak banyak, dikomunitas pedagang kecil yang semuanya hidup sangat sederhana.
Melihat kondisi tersebut sang istri tersadar akan khilafnya dan minta maaf kepada suaminya.
Tidak perlu dengan ceramah panjang lebar, tidak perlu pembahasan panjang, namun  hasilnya mampu menyadarkan istri untuk lebih memiliki empati, dan mengutamakan kebutuhan dari pada keinginan.
Sebagai seorang pendidik kita harus mampu melihat momen di sekitar untuk menjadi wasilah kita dalam menanamkan nilai dan pemahaman kepada orang yang kita didik agar mampu difahami dengan baik dan tertanam dengan kuat.
Demikian juga dalam mendidik anak dalam meyakini, mencintai, dan menjadikan Alquran sebagai petunjuk jalan hidup, kita harus pandai memanfaatkan situasi yang ada sekaligus menguatkan iman agar alquran bisa tertanam kuat didalam hati, tidak sekedar dibaca, tidak sekedar di lombakan, namun menjadi ruh dan kehormatan diri.
Apakah momen yang tepat untuk mendidik agar rasa cinta terhadap alquran tertanam kuat didalam hati?
Adakah wasilah istimewa yg disediakan Allah saat ini untuk mendidik agar Alquran menjadi bagian gerak hati dan tarikan nafas?
Kapankah ada momen kusus yang akan memudahkan kita mendidik?

Semoga setiap kita memahami dan bijak dalam mendidik diri pribadi, keluarga dan lingkungan hingga Alquran benar benar menjadi pedoman kita dalam menjalani hidup ini, amin

Minggu, 27 November 2016

TADINYA AKU ENGGAN TURUN......

TADINYA AKU ENGGAN TURUN......

Tadinya aku enggan turun...
Ketika umat membanjiri jakarta
Ketika takbir meriahkan jalan jalan ibu kota
4 11 telah menunjukan bukti bahwa umat ini masih sebtia memegang amanah suci
Menjaga Alquran dan para ulama.
Karena sang penista telah menyandang gelar terbaiknya saat ini
Menjadi tersangka.

Tadinya aku enggan turun....
Ketika satu persatu tokoh menghimbau, melarang, membid’ahkan
Meminta bersabar dalam penantian.
Karena proses sedang, biarkan hukum yang bekerja.

Tadinya aku enggan turun....
Tapi lihatlah mulut sang penista, kembali fitnah terlontar dengan busuk
Sebusuk otak dan hatinya
Tapi lihatlah....
Musuh musuh Islam yang ketika 4 11 bersenbunyi
Dibalik batu besar, dibalik pohon lebat, dibalik selimut tebal
Hampir hampir saja masa itu datang , batu , pohon , selimut
Akan berbicara “hai umat islam, ini musuhmu dibelakangku””
Mereka kembali menyusun kekuatan, merapikan barisan
Melalui tangan tangan fasik kesana kemari melempar tuduhan, kesana kemari membuat kebijakan dan aturan, kesana kemari meminta fatwa pelarangan
Hingga dada umat terasa sesak terjepit, namun ghiroh ini tidaklah padam
Semangat jihad justru berkobar diantara larangan dan ancaman
Jangan brkan 2 12 menjadi sunyi
Karena itu bisa berarti awal islam akan ditertawakan
Ulama akan di kriminalisasikan,
Umat akan dijauhkan dari ajaran islam
Maka hari ini saya memutuskan dengan bismillahirrohman nirrohim....
Aku akan datang, marilah kita datang
Tunjukan bahwa ini adalah awal masa islam yang gemilang

“ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:12)”

2 12 aku akan datang.....Allahu akbar!!!


Jumat, 11 November 2016

INI SOAL ‘ RASA ‘’

INI SOAL ‘ RASA ‘’
Andi Abi Abdullah



Ini soal “rasa” yang hanya bisa dimengerti oleh yang memiliki “rasa”
Akan susah bagi yang tak memiliki kemudian diminta untuk memahami, bagaimana mungkin, sedangkan ia tak tahu soal ini
“rasa” ini soal hati, yang sulit dijelaskan dengan akal, bahkan bagi orang yang sangat berilmupun, belum tentu bisa memahaminya.
Sebagaimana mendengar suara adzan,
Ada yang terganggu dan tidak nyaman walau dia islam
Ada yang “tak terdengar’’ dan tak berarti apa apa suara adzan tersebut
Ada yang bergumam sudah masuk waktu sholat, namun tetap melanjutkan pekerjaannya
Ada yang bergegas menuju masjid, bahkan ada yang sudah mempersiapkan diri sebelum adzan berkumandang.
Sekali lagi ini soal “rasa” , akan sangat susah bagi yang jengah dengan suara adzan memahami yang menyongsong sebelum terdengar adzan, akan susah memahami bagi yang bergegas kemasjid melihat yang merasa “tak terdengar”
Ilmu dan kepandaian seseorang bukanlah jaminan untuk mengerti
Walaupun seorang professor atau doctor
Walaupun seorang buya atau ajengan
Walaupun seorang kyai atau ustadz
Karena ini urusan hati, yang bisa memahaminya adalah mereka yang hatinya memiliki “rasa”
Ingatlah surat al anfal ayat 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Ayat tersebut menceritakan tentang “rasa”, dengan mendengar atau menyebut nama Allah hati menjadi bergetar, apakah bisa dijelaskan dengan akal kenapa hati tersebut bergetar?
Apakah ada pasal atau aturan hukum yang menjelaskan tentang hati yang bergetar?
Tidak ada, Karena kembali sekali lagi ini soal “rasa”.
Karena itu maka wajar dan bisa difahami ketika jutaan umat berbondong bondong dalam “4 11 “ Karena mereka memiliki “rasa” yang terusik, yang mereka agungkan, yakini kesuciannya, patuhi nasehatnya kemudian di nistakan.
Bagaimana mungkin bagi sang pemilik “rasa” berdiam diri ketika
Allah sang pemilik hidup
Rasulullah sang suri tauladan
Alquran sang petunjuk
Ulama penerus Rasulullah
Di usik dan dihinakan, dijadikan jalan bagi seseorang meraih jabatan dunia dengan mentertawakannya.
Sungguh para pemilik “rasa” tidak terima, maka wajar ketika semua berjalan dalam satu barisan menuntuk keadilan.
Tulisan ini bukan untuk menilai orang  lain memiliki rasa atau tidak, bukan untuk merasa lebih baik
Namun untuk muhasabah diri sampai mana “rasa” yang kita miliki
Apakah kita sekedar terusik, atau tak peduli
Apakah kita mencari pembenaran untuk menghindar dari “panggilan” atau memantapkan hati menyongsong seruan itu
Semua Karena soal “rasa”
Semoga setiap kita selalu bisa mengukur diri sampai mana batasan “rasa” yang kita miliki
Kemudian berupaya untuk meningkatkan agar lebih baik lagi, amin.




Minggu, 06 November 2016

Jalan Masih Panjang.......

Jalan Masih Panjang.......
Andi Abi Abdullah

Jalan masih panjang saudaraku,
Perjuangan baru di mulai, baru memasuki masa pemanasan awal
 jangan langkahmu  surut apalagi gentar
penista itu belum juga mengerti, bahwa kita akan membela
walau peluh dan darah mulai mengalir
walau nyawa satu saudara kita sudah menjadi korban

Jalan masih panjang saudaraku,
Barisan berpenyakit al wahn tak rela kita mengganggu pesta mereka
Baju takwa telah mereka pakai untuk membodohi umat
Seolah yang keluar dari mulut mereka adalah tafsir yang tepat
Semua demi mengekor penista terlaknat.

Ingatlah engkau saat Rasulullah di tegur Jibril karena menggantungkan pedangnya?
Seolah peperangan telah usai....
Maka jangan gantungkan semangatmu saudaraku,
Kita baru memulai, jalan masih panjang, penista harus kita nistakan
Pengekor yang berbaris harus kita sadarkan
Atau azab Allah yang akan mereka rasakan.

Ikat erat tali sepatumu
Genggam kuat panji panji islam,
Kuatkan tarikan nafasmu
Tajamkan sorot matamu,
Siapkan diri untuk hari yang kita nantikan
Siapkan diri untuk medan yang lebih besar
Siapkan diri hingga komando segera di teriakkan
Dan kita akan hadir bagai bah memenuhi lembah
Bagai gulungan ombak yang menggelegar
Bagai tsunami yang akan menghapus barisan sang penista.

Teriakkan takbir berulang, hingga musuh Allah akan gentar  
Allahuakbar!!! Allahuakbar!! Allahuakbar!!!
Dimedan berikutnya kita akan bertemu


Selasa, 25 Oktober 2016

*KEMATIAN SEDANG MENANTIMU*

*KEMATIAN SEDANG MENANTIMU*
_Andi Abi Abdullah_

Sahabat ku semua,
Pagi ini seorang Ustadzah Pesantren Darul Quran Mulia *Ustadzah istikhoroh* meninggal dalam usia muda., semoga almarhum yang begitu cinta dengan Alquran akan dicintai Allah dan terjaga dengan Alquran, hingga ditempatkan di tempat yang mulia disisi Allah. Amin.

Usia beliau masih muda, namun kematian seringkali dating menjumpai kita bukan Karena usia
Sering kali kita berfikir bahwa jatah hidup normal manusia adalah 60an atau 70an tahun, sehingga ketika umur kita masih cukup jauh dari itu maka merasa aman akan datangnya hari kematian.
rasa masih jauh ini yang membuat kita berleha leha dalam beribadah, atau bahkan berani untuk melakukan maksiat kecil (maksiat besar?) berfikir toh masih cukup waktu untuk bertobat
.
Ingatlah sahabatku ,
 kematian adalah rahasia Allah yang dirahasiakan dari kita atas 3 hal :
   1. Waktu.
        kita tidak pernah diberitahu kapan waktunya kematian itu datang, mungkin esok hari, minggu depan, bulan depan atau bahkan sesaat setelah membaca tulisan ini, waktu itu adalah rahasia Allah yang tersimpan rapi tanpa siapapun yang tahu, memang kadang ada orang orang tertentu yang mendapatkan firasat sehingga mampu merasakan dan seolah telah mendapatkan pesan bahwa umurnya tidak panjang lagi, tapi orang tersebutpun tidak akan tahu kapan pastinya malaikat maut menjemput.
  2. Tempat.
      Dimana kita akan mengakhiri hidup kita, itu juga rahasia Allah, tidak sedikit sahabat Rosulullah yang selalu berdoa agar meninggal dalam medan perang, dan mereka pun rajin berangkat perang tapi ternyata meninggal di atas tempat tidurnya,  tidak sedikit orang yang meninggal di tempat2 pelacuran, padahal tentunya merekapun tak berharap demikian, tapi amal perbuatan seseorang itu yang salah satunya menghantarkan pada tempat saat akan terjadinya kematian, kembali lagi ini adalah rahasia Allah, dimana Allah tak pernah memberitahukan kepada kita dimana tempat kita akan diangkat ruh dari jasad yang hina ini.
3.  Cara.
     Rahasia ke tiga adalah dengan cara apa kita akan mengakhiri hidup , apakah dengan perantara sakit yg cukup serius, atau dengan sekedar jatuh dikamar mandi, atau dalam kecelakaan yang hebat , itu semua rahasia Allah. saya selalu berharap bahwa Allah dengan rahmatnya memberikan kebaikan kepadaku untuk memberikan waktu tempat dan cara terbaik dalam mengambil ruh ini agar kematian yang pasti akan terjadi ini adalah kematian yang khusnul qotimah.

Sahabatku, coba amatilah apa yang ada dalam diri kita ,
sudah berapa banyak  tanda tanda kematian yang telah Allah kirimkan,
 rambut ini mulai tumbuh uban, kulit ini mulai mengering dan menua, tenaga ini tak lagi sekuat dulu,
 ini adalah pesan yang Allah sampaikan pada kita bahwa, kontrak hidup kita hamper habis ,  waktu yang kita tidak tahu itu kapan, maka  berhati hatilah seolah kematian itu akan segera terjadi,
 banyaklah berbuat baik, dan tinggalkan hal yang sia sia,
jadikan kematian sebagai pengawal dan penjaga prilaku kita sehingga apapun yang kita lakukan adalah hal terbaik dari apa yang pernah kita lakukan , bisa jadi itu yang terakhir kali kita bisa melakukannya.

Surat Al-Munafiqun Ayat 11
Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan“.
Perbanyak bekal untuk hari yang sudah pasti,
Siapkan diri untuk peristiwa yang tiba tiba
Jauhi maksiyat agar khusnul khotimah, amin


(teriring doa terbaik untuk Ustadzah Istikhoroh semoga mendapatkan kemuliaan di akherat atas semua jasa jasanya mendidik para santri penghafal alquran, amin )

Senin, 12 September 2016

MENAMPAKKAN AMAL

MENAMPAKKAN AMAL
( Andi Abi Abdullah)

Sahabatku ahli ibadah,
Dalam melaksanakan suatu ibadah kita diharuskan untuk melakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan yang ada. sehubungan dengan ikhlas tersebut kemudian sering muncul pertanyaan
Apakah amal yang ikhlas itu yang tersembunyi ?
Apakah amal yang terang terangan , terlihat jelas, atau bahkan di publikasikan  amal yang tidak ikhlas ?
 Untuk menjawab pertanyaan ini saya mengutip saya ayat sederhana dalam surat Albaqoroh ayat 274 :
الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Tidak ada masalah bagi Allah apakah amal kita sembunyi sembunyi, atau terang terangan, yang terpenting adalah kita punya kemampuan untuk menjaga amal tersebut agar tetap Ikhlas karena Allah, untuk Allah, dan hanya Allah.
Bagaimana kalau ayat ini dijadikan alasan pembenaran bagi sebagian orang untuk menyebarkan aktifitas ibadah mereka?   Contoh :
-          Laper nih, semalam nggak sahur, apa karena shaum sunah ya?
-          Alhamdulillah sudah buka puasa senin kamis
-          Kangen padang Arofah
-          Rindu tawaf
-          Sedang berbagi rejeki dengan anak yatim
-          Alhamdulillah sudah selesai satu juz hari ini
Dan berbagai contoh yang lain...
Jawab saya adalah kembalikan ke pribadi masing masing, kita tidak perlu repot menghabiskan energi menilai postingan orang lain, yang terpenting adalah amal diri kita sendiri di jaga agar tetap ikhlas sejak niat awal, saat melakukan, maupun jauh hari setelah selesai melakukan amal tersebut.
Selalu jaga hati dan fikiran untuk tidak ingin posting , menyampaikan, menyebarkan amal kebaikan agar mendapat pujian, atau diakui kesholehan kita, juga jaga diri agar tidak mudah menilai postingan orang lain ikhlas atau tidak.
Tebarkan kebaikan, syiarkan ibadah dengan cara yang lebih santun, dan lebih menjaga hati kita agar tidak terperosok ke jurang riya’, karena batasannya sangat tipis. Selalu ber istigfar agar dijaga Allah dalam niat, agar tidak bergeser niat baik kita tersebut.
Terakhir,
Pilihan apapun yang kita ambil, sembunyi maupun terang terangan harus dilandasi dengan keikhlasan diawal tengah dan akhir, dengan begitu maka insyaAllah amal kita tidak hilang terhapus dengan riya’ tetapi akan menjadi bekal di akherat nanti sebagai pemberat timbangan kebaikan kita, amin.

“Amal yang tersembunyi namun disertai kesombongan karena mampu menyembunyikan, juga akan sia sia”




Sabtu, 03 September 2016

TOLONGLAH AGAMA ALLAH

TOLONGLAH AGAMA ALLAH
( Andi Abi Abdullah)



Sahabatku ahli hikmah,
Kita sering mendengar perbincangan mengenai surat Muhammad ayat 7 yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Kenapa Allah membutuhkan pertolongan ?
kenapa Agama Allah membutuhkan pertolongan? Bukankah yg menjaga Allah?....
saya tidak akan berpanjang lebar dengan berbagai tafsir yang ada, namun saya mengajak antum semua memahami gambaran begini, Ada si fulan datang kerumah sekedar untuk silaturohim, setelah menjelang pamit kita beri sifulan ini uang Rp.50.000.- padahal beliau tidak meminta.  Setelah itu datang si Fulanah datang kerumah menceritakan kalau pagi ini belum bisa memasak karena sudah tidak memiliki apa apa untuk dimasak, uang juga tidak punya, kemudian kita memberinya uang Rp.50.000.-
sekarang mari kita rasakan, saat memberi uang ke sifulan ‘rasa’nya bagaimana? Ketika memberi si fulanah rasanya bagaimana?
Tentu akan sangat berbeda, begitu terasa kuat, membekas, ada rasa emasional yg lebih saat kita memberi uang tersebut kepada si fulanah.
Maka barang kali ini juga yg diharapkan Allah terhadap kita, saat menjalankan “kerja” ibadah dalam bentuk megikuti taklim atau mengisi taklim, saat berbagi, saat menghadiri halaqoh, saat membantu sesama dan sebagainya. Ada kekuatan rasa yang lebih dari sekedar melakukan, ada kekuatan emosional yang menyertainya, Ghiroh yang kuat untuk mengalahkan kesibukan, kemalasan, dan beribu alasan yang sudah seringkali kita gunakan untuk menghindar dari kerja dakwah ini.
Karena itu wahai sahabatku ahli hikmah, mari kita lembutkan hati, perbaiki niat, dan tanamkan dalam benak kita bahwa Agama ini membutuhkan pertolongan kita, agar semangat kembali menyala, agar niat makin kuat, agar langkah kita semakin ringan dan bertenaga. Kemudian gandeng muslim yg lain, bersama sama saling menguatkan dan mengingatkan, menuju perbaikan dari apa yang bisa kita lakukan.
Tolonglah agama Allah, bukan karena Ia membutuhkan pertolongan, tapi karena kita membutuhkan menolong agama ini,
Semoga kita semua kembali rapi dalam barisan , satu dalam gerak, bercita cita sama, menggapai ridho Ilahi. Amin.